The False Memory

eksperimen tentang betapa mudahnya otak kita menciptakan kenangan yang tidak pernah ada

The False Memory
I

Pernahkah kita berdebat panas dengan saudara atau sahabat soal kejadian masa lalu? Kita yakin seratus persen saat itu hujan deras, tapi sahabat kita berani sumpah matahari sedang terik-teriknya. Kita merasa ingatan di kepala kita sejelas rekaman video dengan resolusi tinggi. Kita membela ingatan itu mati-matian. Tapi, bagaimana kalau saya bilang, otak kita sebenarnya adalah sutradara film fiksi yang sangat andal? Mari kita duduk santai sejenak dan membicarakan sesuatu yang mungkin akan membuat kita sedikit mempertanyakan realitas kita sendiri: fenomena the false memory atau ingatan palsu.

II

Dulu, banyak ilmuwan percaya bahwa otak kita bekerja mirip seperti rak arsip atau hard drive komputer. Ada folder kejadian masa kecil, ada folder masa SMA. Saat kita ingin mengingat sesuatu, kita sekadar membuka folder tersebut dan memutarnya kembali. Sesederhana itu. Namun, sejarah psikologi mencatat sebuah pergeseran paradigma yang masif di awal tahun 90-an. Seorang psikolog kognitif bernama Elizabeth Loftus mulai merasa curiga dengan cara kerja ingatan. Loftus menyadari bahwa ingatan manusia ternyata sangat rapuh dan cair. Ingatan kita lebih mirip seperti halaman Wikipedia. Kita bisa membacanya, tapi kita—dan bahkan lingkungan di sekitar kita—juga bisa menyunting isinya kapan saja. Penemuan ini memunculkan sebuah pertanyaan yang sedikit menyeramkan. Jika ingatan memang bisa diedit, mungkinkah kita menanamkan kenangan tentang suatu peristiwa yang sama sekali tidak pernah terjadi ke dalam kepala seseorang?

III

Untuk menjawab rasa penasarannya, Loftus merancang sebuah eksperimen yang kini menjadi legenda di dunia sains. Eksperimen ini dikenal dengan teknik Lost in the Mall. Mari bayangkan sejenak teman-teman menjadi partisipan dalam penelitian ini. Seorang peneliti datang membawa sebuah buku harian berisi empat cerita dari masa kecil teman-teman. Tiga cerita adalah fakta nyata yang didapat diam-diam dari orang tua kalian. Namun, satu cerita adalah kebohongan total yang sengaja dikarang. Cerita palsu itu menyebutkan bahwa saat berusia lima tahun, kalian pernah hilang di sebuah pusat perbelanjaan, menangis ketakutan, lalu diselamatkan oleh seorang lansia yang baik hati. Kalian lalu diminta membaca keempat cerita itu dan menceritakan kembali detail apa pun yang kalian ingat. Tentu saja, di hari pertama, mayoritas orang akan mengerutkan dahi. "Saya tidak ingat pernah hilang di mal," begitu kata mereka. Tapi peneliti tidak menyerah. Mereka meminta partisipan untuk pulang, mencoba mengingat-ingatnya lagi di rumah, dan kembali minggu depan. Apa yang terjadi beberapa hari kemudian adalah sesuatu yang berhasil membuat merinding dunia hukum dan psikologi di seluruh dunia.

IV

Saat para partisipan kembali ke laboratorium, keajaiban—atau lebih tepatnya, manipulasi—otak pun terjadi. Seperempat dari total partisipan tiba-tiba "mengingat" kejadian palsu tersebut. Lebih gilanya lagi, mereka tidak sekadar mengiyakan. Mereka mulai menambahkan detail yang tidak pernah ditulis oleh sang peneliti. Mereka bilang kakek yang menolong mereka memakai kemeja flanel merah. Mereka ingat rasanya memegang es krim yang meleleh saat menangis. Mereka sungguh-sungguh merasakan emosi ketakutan yang nyata. Kenapa ini bisa terjadi? Secara neurologis, jawabannya ada pada proses reconsolidation. Setiap kali kita memanggil sebuah ingatan, memori tersebut keluar dari kondisi stabilnya dan menjadi sangat rentan. Di momen jeda inilah, sugesti dari luar, imajinasi, atau pertanyaan yang menggiring bisa masuk dan bercampur lebur dengan fakta asli. Saat ingatan itu disimpan kembali ke dalam otak, ia sudah berubah menjadi versi revisi. Otak kita secara biologis tidak bisa lagi membedakan mana detail yang asli dan mana detail yang baru saja ditambahkan. Secara tidak sadar, kita meretas otak kita sendiri setiap kali kita bernostalgia. Ini bukan sekadar trik pikiran yang lucu. Di dunia nyata, celah memori ini telah membuat orang-orang tak bersalah memberikan pengakuan palsu atas kejahatan berat, hanya karena mereka diinterogasi dengan teknik yang manipulatif secara berulang-ulang.

V

Mendengar fakta sains ini mungkin membuat kita merasa sedikit tidak nyaman. Kita jadi ragu, mana kenangan manis yang benar-benar nyata dan mana yang sekadar dongeng buatan otak kita sendiri? Tapi, teman-teman, mari kita coba melihat hal ini dari sudut pandang yang penuh empati. Otak kita melakukan manipulasi ini bukan karena ia rusak. Justru sebaliknya. Fleksibilitas saraf yang memungkinkan terjadinya false memory adalah mekanisme evolusi yang sama yang membuat kita mampu berimajinasi tentang masa depan. Karena ingatan kita tidak kaku seperti batu, kita bisa memproses trauma, memaafkan masa lalu, merencanakan skenario masa depan, dan menaruh empati pada orang lain. Ingatan kita memang tidak sempurna. Ia rapuh, mudah dipengaruhi, dan terkadang sedikit dramatis. Tapi justru ketidaksempurnaan yang indah itulah yang membuat kita menjadi manusia seutuhnya. Jadi, lain kali jika kita berdebat dengan sahabat atau pasangan soal hal-hal sepele di masa lalu, mungkin kita bisa tersenyum dan memilih untuk mengalah. Toh, pada akhirnya, sangat besar kemungkinannya otak kita berdua sama-sama sedang mengarang cerita.